Tradisi Golok-Golok Menthok di Desa Gribig: Memahami Makna Agama melalui Antropologi Simbolik Interpretatif

Mengenal Tradisi Golok-Golok Menthok

Indonesia memiliki beragam tradisi keagamaan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai keagamaan, sosial, dan kemanusiaan. Salah satunya adalah tradisi Golok-Golok Menthok yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Gribig, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Tradisi Golok-Golok Menthok merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiulawal, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi ini memiliki keunikan karena melibatkan anak-anak perempuan dan ibu-ibu yang membawa jajanan dari rumah untuk kemudian dikumpulkan dan dibagikan kembali secara acak.

Di balik kesederhanaan pelaksanaannya, tradisi ini menyimpan pesan tentang penghormatan terhadap perempuan. Nilai tersebut dapat ditelusuri melalui sejarah yang melatarbelakangi tradisi sekaligus dipahami melalui pendekatan antropologi simbolik interpretatif Clifford Geertz.

Agama dan Kebudayaan dalam Perspektif Clifford Geertz

Agama dapat dipahami melalui berbagai sudut pandang. Pertama, agama sebagai sistem kepercayaan yang berkaitan dengan persoalan metafisik dan teologis, seperti keyakinan terhadap Tuhan. Kedua, agama sebagai pengalaman psikologis yang membentuk keyakinan dan perilaku seseorang. Ketiga, agama sebagai sistem budaya yang tercermin dalam simbol, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam perspektif Clifford Geertz, agama merupakan sistem simbol yang membentuk suasana hati dan motivasi yang kuat, mendalam, serta bertahan lama dalam diri manusia. Simbol-simbol tersebut membangun konsepsi mengenai tatanan kehidupan dan memberikan kesan bahwa tatanan tersebut merupakan sesuatu yang nyata.

Dengan demikian, agama tidak hanya dapat dipahami melalui ajaran dan doktrin formal, tetapi juga melalui praktik kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Tradisi keagamaan, misalnya, dapat dipandang sebagai media untuk memahami nilai dan pandangan hidup suatu komunitas.

Geertz memandang kebudayaan sebagai teks yang perlu ditafsirkan. Sebagaimana seseorang membaca sebuah teks untuk memahami makna di balik susunan kata, praktik kebudayaan juga perlu ditafsirkan agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat dipahami. Pemikiran inilah yang menjadi dasar pendekatan antropologi simbolik interpretatif.

Dalam pendekatan tersebut, Geertz membedakan kebudayaan menjadi dua aspek, yaitu model of (model dari kenyataan) dan model for (model bagi tindakan). Model of merujuk pada gambaran mengenai kenyataan yang diwujudkan melalui tindakan atau praktik kebudayaan. Sementara itu, model for merupakan pedoman nilai dan pengetahuan yang digunakan masyarakat dalam menentukan tindakan.

Kedua konsep tersebut dapat digunakan untuk memahami tradisi Golok-Golok Menthok, baik dari segi praktik pelaksanaannya maupun nilai-nilai yang melandasinya.

Sejarah dan Makna Tradisi Golok-Golok Menthok

Tradisi Golok-Golok Menthok memiliki keterkaitan dengan pesan penghormatan terhadap perempuan dalam Islam. Salah satu ungkapan yang dikenal dalam tradisi ini adalah:

“Golok-golok menthok, bancaane cah wedok, cah lanang ra enthuk njanthok, nek njanthok udele ketok.”

Ungkapan berbahasa Jawa tersebut secara bebas dapat dimaknai sebagai berikut: Golok-golok menthok merupakan syukuran bagi anak perempuan. Anak laki-laki tidak diperbolehkan meminta bagian, sebab jika meminta, pusarnya akan terlihat.

Ungkapan tersebut menjadi bagian dari identitas tradisi sekaligus menggambarkan kekhususan perayaan bagi anak perempuan. Tradisi ini juga dikaitkan dengan sejarah perlakuan diskriminatif terhadap perempuan pada masa jahiliah. Pada masa tersebut, sebagian masyarakat Arab melakukan praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup karena menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib atau beban keluarga.

Kehadiran Nabi Muhammad saw. membawa ajaran yang menentang praktik tersebut dan menegaskan nilai kemanusiaan serta penghormatan terhadap perempuan. Dalam konteks inilah, tradisi Golok-Golok Menthok dimaknai sebagai pengingat bahwa perempuan memiliki kedudukan yang patut dihormati.

Secara simbolis, istilah golok dimaknai sebagai senjata tajam yang melambangkan ketegasan. Dalam tradisi ini, golok dihubungkan dengan harapan agar nilai-nilai Islam yang ramah terhadap perempuan tertanam kuat dalam hati dan kehidupan masyarakat. Sementara itu, menthok yang dimaknai sebagai habis atau berakhir menggambarkan harapan agar diskriminasi terhadap perempuan tidak lagi terjadi.

Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa tradisi Golok-Golok Menthok tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mengandung pesan moral mengenai penghormatan terhadap perempuan.

Pelaksanaan Tradisi Golok-Golok Menthok di Desa Gribig

Hingga kini, masyarakat Desa Gribig masih mempertahankan tradisi Golok-Golok Menthok sebagai kegiatan tahunan yang dilaksanakan setiap 12 Rabiulawal. Tradisi ini biasanya berlangsung pada sore hari setelah salat Asar.

Pelaksanaannya melibatkan anak-anak perempuan dan ibu-ibu setempat. Mereka membawa jajanan dari rumah yang umumnya dibungkus menggunakan anyaman bambu. Setelah berkumpul di musala atau tempat lain yang telah disepakati, seluruh jajanan dikumpulkan menjadi satu.

Jajanan yang terkumpul kemudian dibagikan kembali secara acak kepada para peserta. Melalui mekanisme tersebut, setiap orang berkesempatan menikmati jajanan yang dibawa oleh peserta lainnya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi makanan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.

Kesederhanaan pelaksanaan tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap perempuan dapat diwujudkan melalui aktivitas sehari-hari. Tradisi ini juga menjadi sarana pewarisan nilai budaya dan keagamaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Membaca Makna Golok-Golok Menthok melalui Antropologi Simbolik Interpretatif

Untuk memahami makna tradisi Golok-Golok Menthok secara lebih mendalam, pemikiran Clifford Geertz mengenai model of dan model for dapat digunakan sebagai kerangka analisis.

1. Tradisi Golok-Golok Menthok sebagai Model of

Dalam perspektif model of, tradisi Golok-Golok Menthok merupakan gambaran nyata dari kebudayaan masyarakat Desa Gribig. Gambaran tersebut terlihat melalui pelaksanaan tradisi setiap 12 Rabiulawal, keterlibatan anak-anak perempuan dan ibu-ibu, serta kegiatan membawa dan bertukar jajanan.

Praktik tersebut menjadi representasi nilai kebersamaan yang hidup dalam masyarakat. Pembagian jajanan secara acak, misalnya, menggambarkan kebiasaan berbagi dan membangun hubungan sosial antarpeserta. Sementara itu, pelibatan anak-anak perempuan menunjukkan identitas khusus tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap perempuan.

Dengan demikian, tradisi Golok-Golok Menthok sebagai model of dapat dipahami sebagai wujud nyata dari nilai-nilai yang diekspresikan masyarakat melalui tindakan kebudayaan.

2. Tradisi Golok-Golok Menthok sebagai Model for

Sementara itu, dalam perspektif model for, tradisi Golok-Golok Menthok berfungsi sebagai pedoman nilai yang mendasari tindakan masyarakat. Nilai tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap perempuan, semangat berbagi, dan kebersamaan.

Latar belakang historis yang menghubungkan tradisi ini dengan perlakuan terhadap perempuan pada masa jahiliah memberikan landasan moral bagi pesan yang ingin diwariskan. Melalui perayaan yang dikhususkan bagi anak perempuan, masyarakat diajak untuk mengingat pentingnya menghargai perempuan dan menghindari perlakuan diskriminatif.

Nilai-nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam praktik kebudayaan yang terus dilaksanakan setiap tahun. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya merepresentasikan nilai yang hidup di tengah masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk mewariskan nilai tersebut kepada generasi berikutnya.

Menjaga Tradisi, Merawat Penghormatan terhadap Perempuan

Tradisi Golok-Golok Menthok di Desa Gribig memperlihatkan bahwa praktik kebudayaan dapat menjadi media penyampaian pesan keagamaan dan kemanusiaan. Melalui kegiatan sederhana berupa membawa, mengumpulkan, dan membagikan jajanan, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga merawat nilai kebersamaan.

Melalui pendekatan antropologi simbolik interpretatif Clifford Geertz, tradisi ini dapat dipahami sebagai representasi kebudayaan sekaligus pedoman nilai yang hidup dalam masyarakat. Aspek model of memperlihatkan wujud nyata tradisi, sedangkan model for menjelaskan nilai-nilai yang mendasari dan diwariskan melalui pelaksanaannya.

Pada akhirnya, Golok-Golok Menthok menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal dapat menyampaikan pesan tentang penghormatan terhadap perempuan. Pelestariannya tidak hanya penting untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.


Referensi

Ahmad, Habibi Zaman Riawan. “Studi Program Pesantren Tahfidz Intensif Daarul Quran.” 2014.

Hamzah, Nasruddin. “Kebudayaan dan Agama Jawa.” UIN Sunan Ampel, 2011. https://repository.uinsa.ac.id/id/eprint/704/1/Nasruddin_Kebudayaan%20dan%20agama%20Jawa.

Hamzah, Ghufron, dan Iman Fadhilah. “Tradisi Teng-Tengan, Ketuwinan dan Weh-Wehan di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah (Kajian Living Hadis Pendekatan Antropologi Interpretatif Simbolik).” JASNA: Journal for Aswaja Studies 2, no. 2 (2022): 59. https://doi.org/10.34001/jasna.v2i2.3746.
Ngaji Filsafat 328 : Clifford Geertz – Agama, 2021.
https://www.youtube.com/watch?v=R9lib6qLP18.

Said, Nur. “Pesan Maulid Golok-Golok Menthok di Tengah Pandemi.” Alif.ID, 1 November 2020. https://alif.id/read/nsd/pesan-maulid-golok-golok-menthok-di-tengah-pandemi-b233731p/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *